BERGERAK DENGAAN HATI PULIHKAN PENDIDIKAN
BERGERAK DENGAAN HATI PULIHKAN PENDIDIKAN
Karya : Ribut Pamungkas, S.Pd.
Indonesia, merupakan negara yang dipenuhi dengan banyak pulau. Berdiri pada 34 provinsi dengan kekhasan bentuk geografis pada setiap lengkung kehidupannya. Salah satu wilayah dengan kondisi geografis yang unik terletak di provinsi lampung khususnya pada kabupaten Tanggamus. Dimana hampir sebagian besar penduduknya hidup diwilayah bukit pegunungan. Adanya perbedaan geografis negeri ini membuat setiap wilayah mempunyai tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi dewasa kini yaitu terkait sistem pendidikan. Kita ketahui bahwa kondisi geografis suatu wilayah mempunyai korelasi yang erat dalam dunia pendidikan. Banyaknya pembaharuan yang selalu dilakukan membuat wilayah dengan geografis sulit dijangkau menjadikan sebuah kendala. Berbeda dengan wilayah yang memiliki posisi strategis tentu akan sangat mudah dalam mengakses segala sesuatunya. Namun, perbedaan tersebut tidak dapat menghalangi masuknya aturan terbaru sistem pelaksanaan pendidikan.
Menurut UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan sendiri merupakan wadah pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah secara signifikan membuat perubahan pola pikir dan cara bekerja pendidik maupun peserta didiknya.
Sebagai seorang pendidik yang bekerja diwilayah dengan kondisi geografis yang jalannya cukup sulit diakses, pemberian pelayanan pembelajaran harus tetap dilakukan dengan maksimal. Peserta didik yang bersekolah di wilayah perbukitan seperti SDN K Tulung Sari Kecamatan Bandar Negeri Semuong Kabupaten Tanggamus mempunyai hak yang sama dalam menuntut ilmu. Pada dasarnya peserta didik SD yang usianya diantara 7-11 tahun termasuk pada tahap oprasional konkret, pada tahap ini peserta didik baru dapat berfikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret, peserta didik belum bisa berpikir secara abstrak sehingga untuk mencapai tujuan pembelajaran peserta didik membutuhkan benda-benda atau media pembelajaran yang nyata serta dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik (Piaget dalam Budiningsih, 2015: 38-39).
Dengan karakteristik peserta didik tersebut, penggunaan media pembelajaran harus dibudayakan pada proses belajar mengajar di SDN K Tulung Sari. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman, menyajikan dan dapat menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran dan memadatkan informasi (Hamalik dalam Azhar Arsyad, 2016: 19-20). Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan sebagai wahana untuk menyampaikan pesan atau informasi dari sumber pesan diteruskan pada penerima (Rusman,2013:160). Menurut Rusman (2013:143) ada lima jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yaitu: (1) media visual, (2) media audio, (3) media audiovisual, (4) media penyaji, dan (5) media objek dan media interaktif berbasis komputer.
Berdasarkan pengamatan sekolah yang berada di Kecamatan Bandar Negeri Semuong Kabupaten Tanggamus khususnya di SDN K Tulung Sari, masih terdapat pendidik yang belum mampu berinovasi dalam menggunakan media pembelajaran. Hal ini menyebabkan rendahnya motivasi belajar peserta didik, menjadikan peserta didik pasif (kurang komunikasi), dan merasa jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Padahal, komunikasi memegang peran penting dalam pengajaran. Agar komunikasi antara pendidik dan peserta didik berlangsung baik dan informasi yang disampaikan pendidik dapat diterima peserta didik maka pendidik perlu menggunakan media pembelajaran.
Kurangnya penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat menyebabkan tidak maksimalnya daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran. Sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik yang rendah. Hasil belajar merupakan sesuatu yang tampak atau terlihat dari terjadinya perubahan tingkah laku pada diri peserta didik, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Hamalik, 2008: 155). Belajar sendiri merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang agar memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang mana individu tersebut dapat aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang segala hal yang dipelajarinya karena adanya pengalaman dari serangkaian kegiatan.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, beberapa pendidik di SDN K Tulung Sari telah melakukan perubahan dalam strategi pembelajaran. Walaupun akses jalan menuju sekolah cukup sulit, namun fasilitas aliran listrik di sekolah telah terpenuhi. Adanya fasilitas aliran listrik membuat beberapa pendidik merancang media pembelajaran yang berhubungan dengan permainan teknologi elektronik berbasis microsoft powerpoint. Dengan diterapkannya inovasi tersebut membuat peserta didik yang tadinya belum mengenal media pembelajaran tersebut menjadi tahu dan semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Teknologi memegang peran yang sangat penting dalam pendidikan karena teknologi dapat meningkatkan minat belajar siswa. Adanya bantuan teknologi berupa LCD proyektor mendukung para pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan menggunakan teknologi LCD proyektor peserta didik tampak lebih memperhatikan materi yang diajarkan, dibanding metode ceramah yang hanya terpaku penjelasan pendidik dan buku pedoman.
Komentar
Posting Komentar